kumpulan puisi sapardi djoko damono pdf
PerihalGendis Karya Sapardi Djoko Damono Kumpulan puisi Perihal Gendis karya Sapardi Djoko Damono yang dianalisis melalui pendekatan stilistika, yaitu puisi Percakapan di Luar Suara Riuh, Hening Gendis, Duduk di Teras Belakang Rumah Waktu Bulan Purnama, Langit-langit, Konon, dan Tak Perlu.
Artikelini menggambarkan ideologi Islam-Jawa pada kumpulan puisi Mantra Orang Jawa karya Sapardi Djoko Damono. Penggambaran ideologi tersebut dilihat berdasarkan konsep tanda yang muncul di dalamnya. Tanda-tanda tersebut kemudian dianalisis
ChrisnandaFiandari. NIM 12210173003. Gaya Bahasa Kumpulan Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono dan Implementasinya terhadap Penulisan Puisi Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 1 Gandusari Tahun Pelajaran 2020/2021.Jurusan Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Pembimbing: Muyassaroh, S.S.‚ M.Pd. Kata Kunci: Gaya bahasa, Penulisan Puisi, Implementasi.
Puisi"Aku Ingin" karya Sapardi termuat dalam kumpulan puisi Hujan Bulan Juni. Kumpulan puisi ini diterbitkan sebagai kumpulan puisi pertama kali oleh Grasindo pada tahun 1994. Pembahasan "Aku Ingin" yang ditulis oleh Sapardi berdasarkan teori hermeneutika harus dianalisis berdasarkan keotonoman teks puisi secara ajek.
SapardiDjoko Damono (20 Maret 1940 - 19 Juli 2020) adalah seorang pujangga berkebangsaan Indonesia terkemuka. (Indonesia) Kumpulan Puisi karya Sapardi Djoko Damono (Indonesia) Artikel tentang acara Puisi Cinta Sapardi Djoko Damono [pranala nonaktif permanen] dari Kompas Online, diakses 19 Februari 2008.
. Yang fana adalah waktu, kita abadi Dunia literasi Indonesia baru saja berduka atas meninggalnya sang penyair legendaris, Sapardi Djoko Damono. Pujangga kelahiran 20 Maret 1940 ini mengembuskan napas terakhirnya di usia 80 tahun, pada Minggu, 19 Juli 2020. Sosok panutan di bidang sastra ini tak hanya populer dalam negeri, tapi juga mancanegara. Karya-karyanya pun banyak diterjemahkan dan menuai berbagai penghargaan, baik dalam maupun luar negeri. Tak hanya sekadar puisi, lho, Sapardi juga menerbitkan deretan buku puisi, fiksi, dan menerjemahkan karya sastra sejak 1969. Karya-karyanya yang sudah berusia puluhan tahun pun masih selalu berhasil menyentuh hati para pencinta sastra. Mengenal Sosok Sapardi Djoko Damono5 Buku Terbaik Sapardi Djoko Damono1. Hujan Bulan Juni 2. Yang Fana Adalah Waktu3. Manuskrip Sajak Sapardi 4. Bilang Begini, Maksudnya Begitu5. Duka-Mu Abadi8Puisi Sapardi Djoko Damono Paling Populer Berikut Makna di Dalamnya1. Hujan Bulan Juni2. Aku Ingin3. Yang Fana Adalah Waktu 4. Hatiku Selembar Daun5. Pada Suatu Hari Nanti6. Kuhentikan Hujan7. Menjenguk Wajah Kolam8. Sajak Tafsir Mengenal Sosok Sapardi Djoko Damono Source Yuridespita Sebelum menyimak berbagai karya yang dikeluarkan oleh sang penyair legendaris satu ini, ada baiknya kamu berkenalan lebih dekat dengan sosok Sapardi Djoko Damono yang sangat menginspirasi ini. Selain penyair hebat, Sapardi juga dikenal sebagai pengamat, kritikus, sekaligus pakar sastra. Sapardi lahir di Surakarta pada tanggal 20 Maret 1940. Ia menghabiskan masa mudanya di kota tersebut hingga ia lulus SMA pada tahun 1958. Ternyata, Sapardi sudah hobi menulis sejak duduk di bangku sekolah. Ia juga sering menulis sejumlah karya dan mengirimkannya ke beberapa majalah. Baru setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris. Ia lalu memperdalam pengetahuan tentang humanities di University of Hawaii, Amerika Serikat pada tahun 1971. Source Pada tahun 1974, Sapardi mengajar di Fakultas Sastra kini dikenal dengan sebutan Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Indonesia. Di tahun 1989, Sapardi memperoleh gelar doktor dalam ilmu sastra. lalu ia dikukuhkan menjadi guru besar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Sebagai seorang sastrawan, tak hanya rajin menulis dan menghasilkan karya, Sapardi juga seringkali menghadiri berbagai pertemuan sastrawan internasional di berbagai negara. Sebut saja Translation Workshop dan Poetry International di Belanda, Seminar on Literature and Social Change in Asia di Canberra, Festival Seni di Adelaide, Asean Poetry Centre di India, dan masih banyak lagi. Sebagai seorang penyair yang orisinil dan kreatif, selama masa hidupnya sebagai sastrawan, Sapardi telah mendapatkan banyak sekali penghargaan dan hadiah sastra atas prestasinya menulis puisi. Tahun 1963, ia mendapatkan hadiah atas puisinya yang berjudul Ballada Matinya Seorang Pemberontak. Lalu, pada tahun 1978, ia menerima penghargaan Culturan Award dari pemerintah Australia. Pada 1983, bukunya yang berjudul Sihir Hujan dari Malaysia juga mendapatkan hadiah Anuegerah Puisi Putera-Putera II. Kamu pasti familiar dengan karya Perahu Kertas, kan? Salah satu karya Sapardi paling sukses tersebut juga mendapat hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta. Sapardi terus membuahkan prestasi dengan memperoleh banyak penghargaan dan hadiah dari tahun ke tahun. Terakhir, pada tahun 2012, Sapardi juga mendapat penghargaan dari Akademi Jakarta. 5 Buku Terbaik Sapardi Djoko Damono Source Sang sastrawan kebanggaan Indonesia ini terkenal akan puisinya yang sederhana, tapi penuh makna. Setiap larik puisinya seakan mengandung kisah yang tulus dan membuat hati terenyuh. Walau kepergiannya meninggalkan luka mendalam, sosoknya akan selalu dikenang dan karyanya akan selalu mewarnai hari-hari kita. Untuk mengenangnya, yuk, baca 5 buku puisi Sapardi terbaik untuk menemani harimu! 1. Hujan Bulan Juni Source “Hujan Bulan Juni” sudah pasti merupakan salah satu karya terbaik Sapardi Djoko Damono. “Hujan Bulan Juni” adalah salah satu novel trilogi ciptaannya yang paling banyak dicari. Novel ini menceritakan tentang manis-pahitnya kisah percintan Sarwono dan Pingkan. Kisahnya yang penuh makna tak hanya tersampaikan dalam tulisan, tapi juga diadaptasi ke layar lebar dalam judul yang sama pada 2017. Sebelum menjadi novel, “Hujan Bulan Juni” sudah terbit terlebih dahulu sebagai buku kumpulan puisi. Buku kumpulan puisi ini juga telah dialihbahasakan ke dalam empat bahasa, yaitu Inggris, Mandarin, Jepang, dan Arab. 2. Yang Fana Adalah Waktu Source “Yang Fana Adalah Waktu” merupakan bagian terakhir dari trilogi “Hujan Bulan Juni”. Di sinilah kisah Sarwono dan Pingkan usai setelah “Pingkan Melipat Jarak” yang terbit pada 2017. Novel yang terbit 2018 ini seakan menegaskan bahwa cinta Pingkan dan Sarwono kekal, yang fana hanya hanyalah waktu. Dalam novel ini pembaca juga mendapat bonus buku mini berjudul “Sajak-Sajak untuk Pingkan”. Peluncuran buku “Yang Fana Adalah Waktu” diiringi oleh pembacaan sajak oleh dirinya serta musikalisasi puisi oleh Arini Kumara, Tatyana Soebianto, dan Umar Muslim. Trilogi karya Sapardi ini pun menuai penghargaan dalam Anugerah Buku ASEAN 2018 di Malaysia. Karya sastranya yang fenomenal ini dinilai bermutu tinggi oleh para profesional. 3. Manuskrip Sajak Sapardi Source “Manuskrip Sajak Sapardi” lahir pada 2017 lalu dan disebut-sebut sebagai harta karun yang berharga. Dalam buku ini tersimpan corat-coret sajak Sapardi dari ketika di masa muda hingga dewasa. Dalam “Manuskrip Sajak Sapardi” kita bisa melihat sajak-sajak sang pujangga bagaikan “sketsa” sebelum menjadi buku. Kata-katanya spontan, mengalir apa adanya, dan tentu saja indah. Desain bukunya pun tampak seperti album kolase gambar yang terbagi dalam periode tahunan, dari 1958-1968, juga 1970-an. Sapardi pun berharap “manuskrip” ini bermanfaat untuk bahan studi dalam pembelajaran sastra. 4. Bilang Begini, Maksudnya Begitu Source Melalui buku “Bilang Begini Maksudnya Begitu”, Sapardi ingin mengajak pembaca yang belum dekat dengan sastra untuk lebih mengenalnya. Ia ingin pembaca lebih mengapresiasi puisi sebagaimana penyair yang membuatnya. Seperti yang kamu tahu, ya, banyak kiasan dan makna terpendam dalam setiap larik puisi. Lewat buku ini sang pujangga ingin mengajak pembaca untuk mengerti “gaya” yang penyair gunakan dalam berima. Untaian kata-katanya pun penuh makna dan indah. Sapardi juga mencantumkan contoh dan penjelasan agar pembaca mudah memahaminya. 5. Duka-Mu Abadi Source Pada 2017 lalu, Sapardi menerbitkan tujuh buku sekaligus yang terdiri atas satu novel dan enam kumpulan puisi. Bukan tanpa alasan, lho, Sapardi menerbitkan tujuh buku tersebut untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-77 tahun kala itu. Novel “Pingkan Melipat Jarak” merupakan salah satu dari tujuh buku yang ia terbitkan. Enam buku kumpulan puisinya adalah “Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita”, “Namaku Sita”, “Ayat-Ayat Api”, “Kolam”, “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?”, dan “Duka-Mu Abadi”. Buku “Duka-Mu Abadi” merupakan salah satu karya terbaik Sapardi yang paling banyak diburu. Isinya ada 43 karya puisi ciptaannya pada tahun 1967-1968. 8Puisi Sapardi Djoko Damono Paling Populer Berikut Makna di Dalamnya Source Selain karya bukunya di atas, Sapardi tetap tinggal di hati kita melalui puisi-puisinya. Untaian kata yang sudah tertulis puluhan tahun lalu pun terasa tak lekang oleh waktu. Seperti 8 puisi terbaik karya Sapardi Djoko Damono berikut ini 1. Hujan Bulan Juni Source Tak ada yang lebih tabahdari hujan bulan Junidirahasiakannya rintik rindunyakepada pohon berbunga itu. Tak ada yang lebih bijakdari hujan bulan Junidihapusnya jejak-jejak kakinyayang ragu-ragu di jalan itu. Tak ada yang lebih arifdari hujan bulan Junidibiarkannya yang tak terucapkandiserap akar pohon bunga itu. Kamu pasti familiar dengan karya puisi Sapardi Djoko Damono ini, kan? Saking terkenalnya, puisi indah satu ini sampai dijadikan film di tahun 2017 dengan judul yang sama. Film Hujan di Bulan Juni ini tayang di tahun 2017 lalu. 2. Aku Ingin Aku ingin mencintaimu dengan sederhanadengan kata yang tak sempat diucapkankayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhanadengan isyarat yang tak sempat disampaikanawan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Puisi di atas diciptakan pada tahun 1989 yang menggambarkan sebuah kisah cinta luar biasa. Puisi ini memiliki makna pengorbanan yag begitu dalam yang digambarkan oleh sang penyair kepada orang yang dicintainya. Buat kamu yang sedang mencari puisi yang memiliki makna kasih tak sampai atau cinta yang bertepuk sebelah tangan, puisi indah ini adalah jawabannya. Duh, bikin sedih aja, deh! 3. Yang Fana Adalah Waktu Source Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?†abadi. Puisi Sapardi Djoko Damono satu ini memiliki beberapa pesan tersirat. Ia mencoba mengingatkan manusia betapa pentingnya waktu yang kita miliki di dunia ini. Kesempatan dan waktu yang diberikan oleh Tuhan haruslah dimanfaatkan sebaik mungkin. 4. Hatiku Selembar Daun Source Hatiku selembar daunmelayang jatuh di rumput. Nanti dulu,biarkan aku sejenak terbaring di sini;ada yang masih ingin kupandang,yang selama ini senantiasa luput; Sesaat adalah abadisebelum kausapu tamanmu setiap pagi. Jika kamu membaca puisi ini berulang kali, pasti kamu mengerti bahwa ada makna yang sangat mendalam di balik puisi ini. Ternyata, puisi ini memiliki makna tersirat, sang penyair meminta pada Tuhan untuk menunda kematiannya. Ia ingin menyelesaikan pekerjaannya sebelum akhirnya kematian menghampirinya. Puisi ini memiliki makna yang erat dengan makna keTuhanan, ia meminta kesempatan untuk melakukan hal-hal yang mungkin ia lewatkan. Penyair seperti menulis puisi ini dengan penuh penyesalan. Wah, bisa jadi bahan introspeksi, nih! 5. Pada Suatu Hari Nanti Source Pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi tapi dalam bait-bait sajak inikau takkan kurelakan sendiri Pada suatu hari nanti suaraku tak terdengar lagi tapi di antara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati Pada suatu hari nanti impianku pun tak dikenal lagi namun di sela-sela huruf sajak ini kau takkan letih-letihnya kucari. Puisi di atas mencoba menggambarkan kesadaran tentang kematian. Semua orang akan dihadapi dengan kematian dan hal itu pasti akan terjadi. Sosok “aku” dalam puisi tersebut seakan tak membiarkan “kamu” kesepian dan akan terus menemaninya melalui karya yang ditinggalkan. 6. Kuhentikan Hujan Source RoamRight Kuhentikan hujankini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahanAda yang berdenyut dalam dirikumenembus tanah basahdendam yang dihamilkan hujandan cahaya mataharitak bisa kutolakmatahari memaksaku menciptakan bunga-bunga Puisi ini juga menceritakan tentang sebuah pengorbanan cinta. Terlihat sosok matahari yang sedang berduka, namun karena dengan bantuan hujan, duka tersebut melahirkan bunga-bunga. 7. Menjenguk Wajah Kolam Source Pinterest Jangan kau ulangimenjengukwajah yang merasasia-sia, yang putihyang pasti ituJangan sekali-kali membayangkanwajahmu sebagai rembulan Ingat,jangan sekali-kali. Tuan. Sebenarnya, puisi ini merupakan cerminan siapa saja yang sedang merasa kesepian lalu dirundung banyak pertanyaan. Pikiran seakan penuh dengan kekhawatiran. Dalam puisi ini dikatakan bahwa jika sedang banyak pikiran dan dirundun gpertanyaan, jangan sering-sering melihat wajahnya yang murung agar tak larut dalam kesedihan. 8. Sajak Tafsir Source All About Birds Kau bilang aku burung?jangan sekali-kali berkhianatkepada sungai, ladang, dan selembar daun terakhiryang mencoba bertahan di rantingyang membenci angin Aku tidak suka membayangkankeindahan kelebat dirikuyang memimpikan tanahtidak mempercayai janji api yang akan menerjemahkankuke dalam bahasa abuTolong tafsirkan akusebagai daun terakhiragar suara angin yang meninabobokanranting itu padamTolong tafsirkan aku sebagai hasratuntuk bisa lebih lama bersamamu Tolong tafsirkan aku sebagai hasratuntuk bisa lebih lama bersamamu Tolong ciptakan makna bagikuapa saja – aku selembar daun terakhiryang ingin menyaksikanmu bahagiaketika sore tiba. Puisi Sapardi Djoko Damono satu ini meminiliki makna filosofis sebuah kehidupan. Ia menggunakan gaya bahasa metafora dalam puisinya, seperti yang kamu bisa lihat dalam kata burung, kawat, dan juga senja yang menceritakan perjalanan kehidupan manusia yang penuh suka, duka, cinta, hingga cobaan dalam hidup yang dialami manusia hingga akhir usianya. Jadi, itulah 13 buku dan puisi Sapardi Djoko Damono untuk menemani hari-harimu. Apa karyanya yang paling kamu sukai dari daftar di atas? Apakah kamu punya kisah tersendiri dari karya-karya Sapardi Djoko Damono? Yuk, tuliskan isi hatimu di kolom komentar! Dengan ini, Rukita juga mengucapkan bela sungkawa atas kepergian sang legendaris Sapardi Djoko Damono. Kini puisi “Pada Suatu Hari Nanti” seakan menjadi nyata, dan hujan ternyata turun di bulan Juli, bukan “Hujan di Bulan Juni”. Walau kau sudah di atas tinggi, karyamu akan selalu abadi, Pak Sapardi! Kamu sedang mencari kost eksklusif di pusat kota? Ada berbagai pilihan kost coliving fully furnished dari Rukita yang fasilitasnya lengkap banget! Harganya terjangkau, lokasinya strategis banget, lho. Penasaran? Klik tombol di bawah! Jangan lupa unduh aplikasi Rukita via Google Play Store atau App Store, bisa juga langsung hubungi Nikita customer service Rukita di +62 819-1888-8087, atau kunjungi Follow juga akun Instagram Rukita di Rukita_Indo dan Twitter di Rukita_Id untuk berbagai info terkini serta promo menarik!CategoriesTak Berkategori
Karya yang kan selalu dikenang sepanjang masa. Sapardi Djoko Damono merupakan seorang pujangga yang kerap disapa SDD, sesuai dengan singkatan namanya. Sapardi tutup usia pada usianya yang genap 80 tahun. Pada Minggu 19/07 ia dikabarkan meninggal sekitar pukul WIB di Rumah Sakit Eka BSD. Kepergian sang pujannga yang karya-karya telah menyentuh banyak hati ini, meninggalkan duka yang mendalam bagi banyak sejatinya Sapardi tidak benar-benar pergi. Ia tetap tinggal di hati para penggemarnya melalui puisi-puisi yang sejak puluhan tahun lalu sudah ditulisnya. Seperti puisi berikut yang menjadi beberapa karya terbaiknya. 1. Hujan Bulan Kutty Tak ada yang lebih tabahDari hujan bulan JuniDirahasiakannya rintik rindunyaKepada pohon berbunga itu Tak ada yang lebih bijakDari hujan bulan JuniDihapusnya jejak-jejak kakinyaYang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih arifDari hujan bulan JuniDibiarkannya yang tak terucapkanDiserap akar pohon bunga itu Hujan Bulan Juni merupakan buku kumpulan puisi yang ditulis oleh Sapardi dari tahun 1964-1994. Karya yang juga diadaptasi menjadi film pada tahun 2017 ini, sukses menarik perhatian penonton. Tak heran, kumpulan puisi yang pertama kali terbit pada tahun 1994, semakin dicari-cari oleh para pencinta Hatiku Selembar hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi. Pada puisi ini, Sapardi menggunakan benda tak hidup seperti daun dan sapu sebagai bagian dari keindahan puisi yang ditulisnya. Ia menggambarkan hati seseorang yang seperti selembar daun jatuh di atas rumput. Mengisyaratkan perasaan yang rapuh akan sesuatu menjadikan majas yang digunakannya terdengar indah nan menyedihkan saat dibaca. Baca Juga Tutup Usia, Ini Biografi Singkat Sapardi Djoko Damono yang Melegenda 3. Aku Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada Puisi yang begitu singkat, namun memiliki makna yang dalam dan terdengar sangat romantis. Tentang seseorang yang mencintai pujaan hatinya secara sederhana dan apa Yang Fana Adalah daboul Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu. Kita abadi Puisi ini menjadi kritik dari Sapardi, akan banyaknya orang-orang yang menggunakan waktu dengan hal-hal yang kurang bermanfaat. Sebelum terlambat, mari gunakan waktu sebaik-baiknya. 5. Pada Suatu Hari pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi tapi dalam bait-bait sajak inikau takkan kurelakan sendiri pada suatu hari nanti suaraku tak terdengar lagi tapi di antara larik-larik sajak ini kau akan tetap kusiasati pada suatu hari nanti impianku pun tak dikenal lagi namun di sela-sela huruf sajak ini kau takkan letih-letihnya kucari Pada Suatu Hari Nanti, di mana hari ini telah terjadi. Memang benar jasadnya tak lagi ada, suaranya tak lagi terdengar, namun karya-karyanya kan selalu ada di jalan, Eyang Sapardi. Baca Juga 5 Puisi Sapardi Djoko Damono buat Kamu yang Patah Hati, Bikin Terenyuh IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
MANUSKRIP PUISIHUJANBULANJUNI Sapardi Djoko DamonoHujan Bulan Juni oleh Sapardi Djoko Damono GM 050 PT. Grasindo, Jl. Palmerah Selatan 28, Jakarta 10270 Hak cipta dilindungi oleh undang-undang All rights reserved Diterbitkan pertama kali oleh penerbit PT. Grasindo, Anggota IKAPI, Jakarta, 1994 Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan KDT ISBN 979-553-467-XManuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 2PENGANTAR Sajak-sajak dalam buku ini saya pilih dari sekian ratus sajak yang saya hasilkanselama 30 tahun, antara 1964 sampai dengan 1994. Sajak saya pertama kali dimuat diruangan kebudayaan sebuah tabloid di Semarang pada tahun 1957, sewaktu saya masihmenjadi murid SMA; Namun, ini tidak berarti bahwa ratusan sajak yang ditulis selama 1957-1964 tidak saya pertimbangkan untuk buku ini. Sajak-sajak itu tidak dipilih mungkin sekalikarena saya pikir lebih sesuai untuk dikumpulkan di buku lain, yang suasananya – atau entahapanya – agak berbeda dari buku ini. Ini berarti bahwa ada juga sesuatu yang mengikat sajak-sajak ini menjadi satu buku. Saya sendiri tidak tahu apakah selama 30 tahun itu ada perubahan stilistik dan tematikdalam puisi saya. Seorang penyair belajar dari banyak pihak keluarga, penyair lain, kritikus,teman, pembaca, tetangga, masyarakat luas, Koran, telecisi, dan sebagainya. Pada dasarnya,penyair memang tidak suka diganggu, namun sebenarnya ia suka juga, mungkin secarasembunyi-sembunyi, nguping pendapat pembaca. Itulah yang merupakan tanda bahwa iatidak hidup sendirian saja di dunia; itulah pula tanda bahwa puisi yang ditulisnya benar-benarada. Sebagian besar sajak-sajak dalam buku ini pernah terbit dalam ebberapa kumpulansajak, sejumlah sajak pernah dimuat di Koran dan majalah, satu-dua sajak belum pernahdipublikasikan. Hampir dua tahu lamanya saya mempertimbangkan penerbitan buku ini,bukan karena sajak-sajak saya berceceran dan sulit dilacak, tetapi karena saya sukameragukan keuntungan yang mungkin bias didapat oleh pembaca maupun penerbit buku ini. Dalam hal terakhir itu sudah selayaknya saya mengucapkan terima kasih kepada Eneste dari penerbit PT Grsindo yang tidak jemu-jemu meyakinkan saya akanperlunya menerbitkan serpihan sajak ini. Terima kasih tentu saja saya sampaikan juga kepadasiapa pun yang telah memberi dan merupakan ilham bagi sajak-sajak ini, tentang apalagipuisi kalau tidak tentang mereka, manusiaJakarta, Juni 1994Sapardi Djoko Damono Catatan Diketik ulangnya sajak-sajak ini dimaksudkan sebagai buah kecintaan dan rasa kagum saya pada karya-karya penyair Indonesia Bapak Sapardi Djoko Damono. Dan juga sebagai upaya penyediaan sarana pembelajaran sastra bagi siapa pun. Penulisan ulang ini diupayakan mengikuti rancang bangun puisi-pusi tersebut dan memiminalisir kesalahan ketik. Mohon, untuk tidak menghapus catatan ini sebagai pertanggung jawaban saya sebagai pihak yang mengetik ulang. Terima kasih. Kritik dan saran soal manuskrip ini kirimkan ke [email protected]Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 3DAFTAR ISI 4PengantarPada Suatu MalamTentang Seorang Penjaga Kubur yang MatiSaat Sebelum BerangkatBerjalan di Belakang JenazahLanskapHujan Turun Sepanjang JalanKita SaksikanDalam SakitSonet Hei! Jangan KaupatahkanZiarahDalam Doa IDalam Doa IIDalam Doa IIIKetika Jari-jari Bunga TerbukaSajak PerkawinanGerimis Kecil di Jalan Jakarta, MalangKupandang Kelam yang MErapat ke Sisi KitaBunga-bunga di HalamanPertemuanSonet XSonet YJarakHujan Dalam Komposisi, 1Hujan Dalam Komposisi, 2Hujan Dalam Komposisi, 3Varisai pada Suatu PagiMalam Itu Kami di SanaDi Beranda Waktu HujanKartu Pos Bergambar Taman Umum, New YorkNew York, 1971Dalam Kereta Bawah Tanah, ChicagoKartu Pos Bergambar Jembatan “Golden Gate”, San FransiscoJangan CeritakanTulisan di Batu NisanMata PisauTentang MatahariBerjalan ke Barat Waktu Pagi HariCahaya Bulan Tengah MalamNarcissusCatatan Masa Kecil, 1Catatan Masa Kecil, 2Catatan Masa Kecil, 3AkuariumSajak, 1Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko DamonoSajak, 2 5Di Kebun BinatangPercakapan Malam HujanTelur, 1Telur, 2Sehabis Suara GemuruhMuaraSepasang Sepatu TuaDi Banjar Tunjuk, TabananSungai, TabananKepada I Gusti Ngurah BagusBola LampuPada Suatu Pagi HariBunga, 1Bunga, 2Bunga, 3Puisi Cat Air untuk RizkiLirik untuk Lagu PopTiga Lembar Kartu PosSandiwara, 1Sandiwara, 2Lirik untuk Imporvisasi JazzYang Fana adalah WaktuTuanCermin, 1Cermin, 2Dalam DirikuKuhentikan HujanBenihDi Tangan Anak-anakDi Atas BatuAngin, 3Cara Membunuh BurungSihir HujanMetamorfosisPerahu KertasKami bertigaTelingaAku InginSajak-sajak Empat SeuntaiDi RestoranDalam Doa’kuPada Suatu Hari NantiSita SihirBatuMautHujan, Jalak dan Daun JambuAjaran HidupTerbangnya BurungManuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko DamonoPada Suatu Malam 6ia pun berjalan ke barat, selamat malam, solo,katanya sambil didengarnya sendiri suara sepatunyasatu lampu-lampu ini masih menyala buatku, gambar-gambar yang kabur dalam cahaya,hampir-hampir tak ia kenal lagi dirinya, menengadahkemudian sambil menarik nafas panjangia sendiri saja, sahut menyahut dengan malam,sedang dibayangkannya sebuah kapal di tengah lautanyang memberontak terhadap adalah minuman keras, beberapa orang membawa perempuanbeberapa orang bergerombol, dan satu-dua orangmenyindir diri sendiri; kadang memang tak ada lelucon sejuta mata itu memandang ke arahku, pun berjalan ke barat, merapat ke masa malam, gereja, hei kaukah anak kecilyang dahulu duduk menangis di depan pintuku itu?ia ingat kawan-kawannya pada suatu hari nataldalam gereja itu, dengan pakaian serba baru,bernyanyi; dan ia di luar pintu. ia pernah ingin sekalibertemu yesus, tapi ayahnya bilangyesus itu anak tak pernah tahu apakah ia pernah sungguh-sungguh mencintai malam ini yesus mencariku, ia belum pernah berjanji kepada siapa pununtuk menemui atau ditemui;ia benci kepada setiap kepercayaan yang berjalan sendiri di antara orang didengarnya seorang anak berdoa; ia tak pernah diajar pun suatu saat ingin meloloskan dirinya ke dalam doa,tapi tak pernah mengetahuiawal dan akhir sebuah doa; ia tak pernah tahu kenapabarangkali seluruh hidupku adalah sebuah doa yang sendiri; ia merasa seperti tenteramdengan jawabannya sendiriia adalah doa yang tadi ia bertemu seseorang, ia sudah lupa namanya,lupa wajahnya berdoa sambil berjalan…ia ingin berdoa malam ini, tapi tak bisa mengakhiri,tak bisa menemukan kata puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damonoia selalu merasa sakit dan malu setiap kali berpikir 7tentang dosa; ia selalu akan pingsankalau berpikir tentang mati dan hidup tuhan seperti kepala sekolah, pikirnyaketika dulu ia masih di sekolah rendah. barangkali tuhanakan mengeluarkan dan menghukum murid yang nakal,membiarkannya bergelandangan dimakan tuhan sedang mengawasi aku dengan curiga,pikirnya malam ini, mengawasi seorang yang selalu gagal ia juga pernah berdosa, tanyanya ketika berpapasandengan seorang perempuan. perempuan itu setangkai bunga;apakah ia juga pernah bertemu yesus, atau barangkalipernah juga dikeluarkan dari sekolahnya malam, langit, apa kabar selama ini?barangkali bintang-bintang masih berkedip buatku, pikirnya…ia pernah membenci langit dahulu,ketika musim kapal terbang seperti burungmenukik dan kemudian ledakan-ledakansaat itu pulalah terdengar olehnya ibunya berdoadan terbawa pula namanya sendirikadang ia ingin ke langit, kadang ia ingin mengembara sajake tanah-tanah yang jauh; pada suatu saat yang dinginia ingin lekas kawin, membangun tempat pernah merasa seperti si pandir menghadapiangka-angka…ia pun tak berani memandang dirinya sendiriketika pada akhirnya tak ditemukannya suatu saat seorang gadis adalah bunga,tetapi di lain saat menjelma sejumlah angkayang sulit. ah, ia tak berani berkhayal tentang tkut membayangkan dirinya sendiri, ia pun ingin lolosdari lampu-lampu dan suara-suara malam hari,dan melepaskan genggamannya dari kenyataan;tetapi disaksikannya berjuta orang sedang berdoa,para pengungsi yang bergerak ke kerajaan tuhan,orang-orang sakit, orang-orang penjara,dan barisan panjang orang terkejut dan berhenti,lonceng kota berguncang seperti sedia kalarekaman senandung duka perempuan tertawa ngeri di depannya, menawarkan tak tahu kenapa mesti karena wajah perempuan itu mengingatkannyakepada sebuah selokan, penuh dengan cacing;barangkali karena mulut perempuan ituManuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damonomenyerupai penyakit lepra; barangkali karena matanyaseperti gula-gula yang dikerumuni beratus ia telah menolaknya, ia bersyukur untuk siapa gerangan tuhan berpihak, menyaksikan orang-orang berjalan, seperti dirinya, sendiriatau membawa perempuan, atau bergerombol,wajah-wajah yang belum ia kenal dan sudah ia kenal,wajah-wajah yang ia lupakan dan ia ingat sepanjang zaman,wajah-wajah yang ia cinta dan ia sama mereka mengangguk padaku, pikirnya;barangkali mereka melambaikan tangan padaku setelah lama berpisahatau setelah terlampau sering bertemu. ia berjalan ke malam. ia mengangguk, entah kepada siapa;barangkali kepada dirinya sendiri. barangkali hidup adalah doa yang panjang,dan sunyi adalah minuman merasa tuhan sedang memandangnya dengan curiga;ia pun hidup adalah doa yang….barangkali sunyi adalah….barangkali tuhan sedang menyaksikannya berjalan ke barat1964Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 8TENTANG SEORANG PENJAGA KUBURYANG MATIbumi tak pernah membeda-bedakan, seperti ibu yang baik. diterimanya kembali anak-anaknya yang terkucil dan membusuk, seperti halnya bangkai binatang, pada suatu hari seorang raja, atau jenderal, atau pedagang, atau klerek – sama kalau hari ini si penjaga kubur, tak ada bedanya. ia seorang tua yang rajin membersihkan rumputan, menyapu nisan, mengumpulkan bangkai bunga dan daunan; dan bumi pun akan menerimanya seperti ia telah menerima seorang laknat, atau pendeta, atau seorang yang acuh-tak-acuh kepada bumi, akhirnya semua membusuk dan lenyap, yang mati tanpa gendering, si penjaga kubur ini, pernah berpikir apakah balasan bagi jasaku kepada bumi yang telah kupelihara dengan baik; barangkali sebuah sorga atau am punan bagi dusta-dusta masa mudanya. tapi sorga belum pernah terkubur dalam bumi tak pernah membeda-bedakan, tak pernah mencinta atau membenci; bumi adalah pelukan yang dingin, tak pernah menolak atau menanti, tak akan pernah membuat janji dengan tua yang rajin itu mati hari ini; sayang bahwa ia tak bisa menjaga kuburnya puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 9SAAT SEBELUM BERANGKATmengapa kita masih juga bercakaphari hampir gelapmenyekap beribu kata diantara karangan bungadi ruang semakin maya, dunia purnamasampai tak ada yang sempat bertanyamengapa musim tiba-tiba redakita di mana. waktu seorang bertahan di sinidi luar para pengiring jenazah menanti1967Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 10BERJALAN DI BELAKANG JENAZAHberjalan di belakang jenazah angina pun redajam mengerdiptak terduga betapa lekassiang menepi, melapangkan jalan duniadi samping pohon demi pohon menundukkan kepaladi atas matahari kita, matahari itu jugajam mengambang di antaranyatak terduga begitu kosong waktu menghirupnya1967Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 11SEHABIS MENGANTAR JENAZAHmasih adakah yang akan kautanyakantentang hal itu? hujan pun sudah selesaisewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habisnya bercakapdi bawah bunga-bunga menua, matahari yang senjapulanglah dengan paying di tangan, tertutupanak-anak kembali bermain di jalanan basahseperti dalam mimpi kuda-kuda meringkik di bukit-bukit jauhbarangkali kita tak perlu tua dalam tanda Tanyamasih adakah? alangkah angkuhnya langitalangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kitaseluruhnya, seluruhnya kecuali kenanganpada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba1967Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 12LANSKAPsepasang burung, jalur-jalur kawat, langit semakin tuawaktu hari hampir lengkap, menunggu senjaputih, kita pun putih memandangnya setiasampai habis semua senja1967Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 13HUJAN TURUN SEPANJANG JALANhujan turun sepanjang jalanhujan rinai waktu musim berdesik-desik pelankembali bernama sunyikita pandang pohon-pohon di luar basah kembalitak ada yang menolaknya. kita pun mengerti, tiba-tibaatas pesan yang rahasiatatkala angina basah tak ada bermuat debutatkala tak ada yang merasa diburu-buru1967Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 14KITA SAKSIKANkita saksikan burung-burung lintas di udarakita saksikan awan-awan kecil di langit utarawaktu cuaca pun senyap seketikasudah sejak lama, sejak lama kita tak mengenalnyadi antara hari buruk dan dunia mayakita pun kembali mengenalnyakumandang kekal, percakapan tanpa kata-katasaat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia1967Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 15DALAM SAKITwaktu lonceng berbunyipercakapan merendah, kita kembali menanti-nantikau berbisik siapa lagi akan tibasiapa lagi menjemputmu berangkat berdukadi ruangan ini kita gaib dalam gema. di luar malam harimengendap, kekal dalam rahasiakita pun setia memulai percakapan kembaliseakan abadi, menanti-nanti lonceng berbunyi1967Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 16SONET HEI! JANGAN KAUPATAHKANHei! Jangan kaupatahkan kuntum bunga ituia sedang mengembang; bergoyang-goyang dahan-dahannya yang tuayang telah mengenal baik, kau tahu,segala perubahan akar-akar yang sabar menyusup dan menjalarhujan pun turun setiap bumi hampir hangus terbakardan mekarlah bunga itu perlahan-lahandengan gaib, dari rahim saksikan saja dengan telitibagaimana matahari memulasnya warna-warni, sambil diam-diammembunuhnya dengan hati-hati sekalidalam Kasih-sayang, dalam rindu-dendam Alam;lihat ia pun terkulai perlahan-lahandengan indah sekali, tanpa satu keluhan1967Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 17ZIARAH 18Kita berjingkat lewatjalan kecil inidengan kaki telanjang; kita berziarahke kubur orang-orang yang telah melahirkan sampai terjaga mereka!Kita tak membawa apa-apa. Kitatak membawa kemenyan atau pun bungakecuali seberkas rencana-rencan kecilyang senantiasa tertunda-tunda untukkita sombongkan kepada akan kita jumpai wajah-wajah bengis,atau tulang belulang, atau sisa-sisa jasad merekadi sana? Tidak, mereka hanya batang-batang cemara yang menusuk langityang akar-akarnya pada bumi kita belum pernah mengenal mereka;ibu-bapak kita yang mendongengtentang tokoh-tokoh itu, nenek moyang kita itu,tanpa menyebut-nyebut hanyalah mimpi-mimpi kita,kenangan yang membuat kita merasapernah berziarah; berjingkatlah sesampaidi ujung jalan kecil inisebuah lapangan terbuka batang-batang cemara ada bau kemenyan tak ada bunga-bunga;mereka telah tidur sejak abad pertama,semenjak Hari Pertama ada tulang-belulang tak ada sisa-sisajasad mereka. Ibu-bapa kita sungguh bijaksana, terjebakkita dalam dongengan tangan kita berkas-berkas rencana,di atas kepala sang puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko DamonoDALAM DOA Ikupandang ke sana Isyarat-isyarat dalam cahayakupandang semestaketika Engkau seketika memijar dalam Kataterbantun menjelma gema. Malam sibuk di luar suarakemudian daun bertahan pada tangkainyaketika hujan tiba. Kudengar bumi sedia kalatiada apa pun diantara Kita dinginsemakin membara sewaktu berembus angina1968Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 19DALAM DOA IIsaat tiada pun tiadaaku berjalan tiada –gerakan, serasaisyarat Kita pun bertemusepasang Tiadatersuling tiada-gerakan, serasanikmat Sepi meninggi1968Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 20DALAM DOA IIIjejak-jejak Bunga selalu; betapa tergodakita untuk berburu, terjundi antara raung warnasebelum musim menanggalkan daun-daunakan tersesat di mana kitaterbujuk jejak-jejak Bunga nantinya atauterjebak juga baying-bayang Cahayadalam nafsu kita yang risau1967Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 21KETIKA JARI-JARI BUNGA TERBUKAketika jari-jari bunga terbukamendadak terasa betapa sengitcinta Kitacahaya bagai kabut, kabut cahaya; di awan hari ini di bumimeriap sepi yang purba;ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata, suatu pagidis ayap kupu-kupu, di sayap warnaswara burung di ranting-ranting cuaca,bulu-bulu cahaya betapa parahcinta Kitamabuk berjalan, diantara jerit bunga-bunga rekah1968Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 22SAJAK PERKAWINANcahaya yang ini, Siapakah?kelopak-kelopak malamberguguran kaki langit yang kaburdalam kamar, dalam Persetubuhanbutir demi butirKau dan aku, akudan serbuk malam tergelincirmenyatuPerkawinan tak di mana pun, takkapan punkelopak demi kelopak terbukamalam pun sempurna1968Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 23GERIMIS KECILDI JALAN JAKARTA, MALANGseperti engkau berbicara di ujung jalanwaktu dingin, sepi gerimis tiba-tibaseperti engkau memanggil-manggil di kelokan ituuntuk kembali berdukauntuk kembali kepada rindupanjang dan cemasseperti engkau yang memberi tanda tanpa lampu-lampusupaya menyahutmu, Mu1968Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 24KUPANDANG KELAM YANG MERAPAT KE SISI KITAkupandang kelam yang merapat ke sisi kita;siapa itu di sebelah sana, tanyamu tiba-tibamalam berkabut seketika; barangkali menjemputkubarangkali berkabar penghujan itukita terdiam saja di pintu; menungguatau ditunggu, tanpa janji terlebih dahulu;kenalkah ia padamu, desakmu kemudian sepiterbata-bata menghardik berulang kalibaying-bayangnya pun hampir sampai di sini; janganucapkan selamat malam; undurlah pelahanpastilah sudah gugur hujandi hulu sungai itu; itulah Saat itu, bisikkukukecup ujung jarimu; kau pun menatapkubunuhlah ia, suamiku kutatap kelam itubaying-bayang yang hampir lengkap mencapaikulalu kukatakan mengapa Kau tegak di situ1968Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 25BUNGA-BUNGA DI HALAMANmawar dan bunga rumputdi halaman; gadis yang kecildunia kecil, jari begitukecil menudingnyamengapakah perempuan suka menangisbagai kelopak mawar, sedangrumput liar semakin hijau swaranyadi bawah sepatu-sepatumengapakah pelupuk mawar selaluberkaca-kaca; sementara tangan-tangan lembuthampir mencapainya wahai, meriaprumput di tubuh kita1968Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 26PERTEMUANperempuan mengirim air matanyake tanah-tanah cahaya, ke kutub-kutub bulanke landasan cakrawala; kepalanya di atas bantallembut bagai bianglalalelaki tak pernah menolehdan di setiap jejaknya melebat hutan-hutan,hibuk pelabuhan-pelabuhan; di pelupuknya sepasang mataharikeras dan fanadan serbuk-serbuk hujantiba dari arah mana saja cadarbagi rahim yang terbuka, udara yang jenuhketika mereka berjumpa. Di ranjang ini1968Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 27SONET Xsiapa menggores di langit birusiapa meretas di awan lalusiapa mengkristal di kabut itusiapa mengertap di bunga layusiapa cerna di warna ungusiapa bernafas di detak waktusiapa berkelebat setiap kubuka pintusiapa terucap di celah kata-katakusiapa mengaduh di baying-bayang sepikusiapa tiba menjemputku berburusiapa tiba-tiba menyibak cadarkusiapa meledak dalam diriku siapa Aku1968Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 28SONET Ywalau kita sering bertemudi antara orang-orang melawat ke kubur itudi sela-sela suara birubencah-bencah kelabu dan unguwalau kau sering kukenangdi antara kata-kata yang lama tlah hilangterkunci dalam baying-bayangdendam remangwalau aku sering kau sapadi setiap simpang cuacahijau menjelma merah menyaladi pusing jantra ku tak tahu kenapa merindutergagap gugup di ruang tunggu1968Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 29JARAKdan Adam turun di hutan-hutanmengabur dalam dongengandan kita tiba-tiba di sinitengadah ke langit; kosong sepi1968Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 30HUJAN DALAM KOMPOSISI, 1 Apakah yang kau tangkap dari swara hujan, dan daun-daun bougencil basah yangteratur mengetuk jendela? Apakah yang kau tangkap dari bau tanah, dari ricik air yang turundi selokan? Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah dan hujan, emmbayangkan rahasiadaun basah serta ketukan yang berulang. “Tak ada. Kecuali baying-bayangmu sendiri yang di balik pintu memimpikan ketukanitu, memimpikan sapa pinggir hujan, memimpikan bisik yang membersit dari titik airmenggelincir dari daun dekat jendela itu. Atau memimpikan semacam suku kata yang akanmengantarmu tidur.” Barangkali sudah terlalu sering ia mendengarnya, dan tak lagi puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 31HUJAN DALAM KOMPOSISI, 2Apakah yang kita harapkan dari hujan? Mula-mula ia di udara tinggi, ringan dan bebas; lalu mengkristal dalam dingin; kemudian melayang jatuh ketika tercium bau bumi; dan menimpa pohon jambu itu, tergelincir dari daun-daun, melenting di atas genting, tumpah di pekarangan rumah, dan kembali ke yang kita harapkan? Hujan juga jatuh di jalan yang panjang, menyusurnya, dan tergelincir masuk selokan kecil, mericik swaranya, menyusur selokan, terus mericik sejak sore, mericik juga di malam gelap ini. bercakap tentang Mungkin ada juga hujan yang jatuh di lautan. Selamat puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 32HUJAN DALAM KOMPOSISI, 3dan tik-tok jam itu kita indera kembali akhirnya terpisah dari hujan1969Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 33VARIASI PADA SUATU PAGIisebermula adalah kabut; dan dalam kabutsenandung lonceng, ketika selembar dauh luruh,setengah bermimpi, menepi ke bumi, luputkaudengarkah juga seperti Suara mengaduh?iidan cahaya yang membasuhmu pertama-tamabernyanyi bagi ca pung, kupu-kupu, dan bunga; Cahayayang menawarkan kicau burung susut tiba-tibapada selembar daun tua, pelan terbakar, tanpa sisaiiimenjelma baying-bayang. Bayang-bayang yang tiba-tiba tersentakketika seekor burung, menyambar ca pungSelamat pagi pertama bagi matahari, risau bergerak-gerakketika sepasang kupu-kupu merendah ke bumi basah, bertarung1970Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 34MALAM ITU KAMI DI SANA“Kenapa kaubawa aku ke mari, Saudara?” sebuah stasiundi dasar malam. Bayang-bayang putih di sudut peronmenyusur bangku-bangku panjang; jarum-jarum jam tak letihnyameloncat, merapat ke Sepi. Barangkali sajakami sedang menanti kereta yang bisaa tibasetiap kali tiada seorang pun siap memberi tanda-tanda;barangkali saja kami sekedar ingin berada di siniketika tak ada yang bergegas, yang cemas, yang menanti-nanti;hanya nafas kami, menyusur batang-batang rel, mengeras tiba-tiba;sinyal-sinyal kejang, lampu-lampu kuning yang menyusut di udarasementara baying-bayang putih di seluruh ruangan,“Tetapi katakana dahulu, Saudara, kenapa kaubawa aku kemari?”1970Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 35DI BERANDA WAKTU HUJANKau sebut kenanganmu nyanyian dan bukan matahariyang menerbitkan debu jalanan, yang menajamkanwarna-warni bunga yang dirangkaikan yang menghapusjejak-jejak kaki, yang senantiasa berulangdalam hujan. Kau di “Ke mana pula burung-burung itu yang bahkantak pernah kau lihat, yang menjelma semacam nyanyian,semacam keheningan terbang; kemana pula suit daunyang berayun jatuh dalam setiap impian?”Dan bukan kemarau yang membersihkan langit,yang perlahan mengendap di udara kau sebut cintamupenghujan panjang, yang tak habis-habisnyamembersihkan debu, yang bernyanyi di beranda kau duduksendiri, “Di mana pula sekawanan kupu-kupu itu,menghindar dari pandangku; di mana pulaah, tidak!rinduku yang dahulu?”Kau pun di beranda, mendengar dan tak mendengarkepada hujan, sendiri,“Di manakah sorgaku itu nyanyianyang pernah mereka ajarkan padaku dahulu,kata demi kata yang pernah kau hapalbahkan dalam igauanku?” Dan kausebuthidupmu sore hari dan bukan siangyang bernafas dengan sengityang tiba-tiba mengeras di bawah matahari yang basah,yang meleleh dalam senandung hujan,yang puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 36KARTU POS BERGAMBARTAMAN UMUM, NEW YORKDi sebuah taman kausapa New York yang memutih rambutnyaduduk di bangku panjang, berkisahdengan beberapa ekor merpati. Tapi tak disahutnyaanggukmu; tak dikenalnya sopan-santun York yang senjakala, yang Hitam panggilannya,membayangkan diriny turun dari keretadari Selatan nun jauh. Beberapa bunga ceri jatuhdi atas koran hari ini. Lonceng menggoreskan akhir musim puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 37NEW YORK, 1971Hafalkan namamu baik-baik di sini. Setelah bajadan semen yang mengatur langkah kita, lampu-lampudan kaca. Langit hanya dalam batin kita,tersimpan setia dari lembah-lembah di mana kau dan akulahir, semakin biru dalam namamu. Tikungan demi tikunganwarna demi warna tanda-tanda jalanan yang menunjukkea rah kita, yang kemudian menjanjikanarah yang kaburke tempat-tempat yang dulu pernah adadalam mimpi kanak-kanak kita. Berjalanlah merapat temboksambil mengulang-ulang menyebut nama tempatdan tanggal lahirmu sendiri, sampai di persimpanganujung jalan itu, yang menjurus ke segala arahsambil menolak arah, ketika semakin banyak jugaorang-orang di sekitar kita, dan terasa bahwasepenuhnya sendiri. Kemudian bersiaplahdengan jawaban-jawaban kaudengarkah swara-swara itu?1971Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 38DALAM KERETA BAWAH TANAH, CHICAGO“Siapakah namamu?” Barangkali aku setengah tertidur waktu kau tanyakan itu lagi. Bangku-bangku yang separo kosong, beberapa wajah yang seperti mata tombak, dan dari jendela siluet di atas dasar hitam. Aku pun tak pernah menjawabmu, bahkan ketika kautanyakan jam berapa saat kematianku, sebab kau toh tak pernah ada tatkala aku sepenuhnya terjagaBaiklah, hari ini kita namakan saja ia ketakutan, atau apa sajalah. Di saat lain barangkali ia menjadi milik seorang pahlawan, atau seorang budak, atau Pak Guru yang mengajar anak-anak bernyanyi – tetapi manakah yang lebih deras denyutnya, jantung manusia atau arloji? yang bisaa menghitung nafas kita, ketika seorang membayangkan sepucuk pestol teracu ke arahnya? Atau tak usah saja kita namakan apa-apa; kau pun sibuk mengulang-ulang pertanyaan yang itu-itu juga, sementara aku hanya separo terjagaSeandainya -1971Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 39KARTU POS BERGAMBARJEMBATAN “GOLDEN GATE”, SAN FRANSISCOkabut yang likat dan kabut yang pupurlekat dan grimis pada tiang-tiang jembatanmatahari menggeliat dan kembali gugurtak lagi di langit! berpusing di pedih lautan1971Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 40JANGAN CERITAKANbibir-bibir bunga yang pecah-pecahmengunyah matahari,jangan ceritakan padaku tentang dinginyang melengking malam-malam – lalu mengembun1971Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 41TULISAN DI BATU NISANtolong tebarkan atasku baying-bayang hidup yang lindapkalau kau berziarah ke maritak tahan rasanya terkubur, megapdi bawah terik si matahari1971Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 42MATA PISAUmata pisau itu tak berkejap menatapmu;kau yang baru saja mengasahnyaberpikir; ia tajam untuk mengiris apelyang tersedia di atas mejasehabis makan malam;ia berkilat ketika terbayang olehnya urat puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 43TENTANG MATAHARIMatahari yang di atas kepalamu ituadalah balon gas yang terlepas dari tanganmuwaktu kau kecil, adalah bola lampuyang ada di atas meja ketika kau menjawab surat-suratyang teratur kau terima dari sebuah Alamat,adalah jam weker yang berderingsaat kau bersetubuh, adalah gambar bulanyang dituding anak kecil itu sambil berkata“Ini matahari! Ini matahari!” –Matahari itu? Ia memang di atas sanasupaya selamanaya kau menghelabaying-bayangmu puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 44BERJALAN KE BARATWAKTU PAGI HARIwaktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku di belakangaku berjalan mengikuti baying-bayangku sendiri yang memanjang di depanaku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan baying-bayangaku dan baying-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan1971Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 45CAHAYA BULAN TENGAH MALAMaku terjaga di kursi ketika cahaya bulan jatuh di wajahku dari genting kacaadakah hujan sudah reda sejak lama?masih terbuka koran yang tadi belum selesai kubacaterjatuh di lantai; di tengah malam itu ia nampak begitu dingin dan fana1971Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 46NARCISSUSseperti juga aku namamu siapa, bukan?pandangmu hening di permukaan telaga dan rindumu dalamtetapi jangan saja kita bercintajangan saja aku mencapaimu dan kau padaku menjelmaatau tunggu sampai angina melepaskan selembar daundan jatuh di telaga pandangmu berpendar, bukan?cemaskah aku kalau nanti air bening kembali?cemaskah aku kalau gugur daun demi daun lagi?1971Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 47CATATAN MASA KECIL, 1 Ia menjenguk ke dalam sumur mati itu dan tampak garis-garis patah dan berkas-berkas warna perak dan kristal-kristal hitam yang pernah disaksikannya ketika ia sakit danmengigau dan memanggil-manggil ibunya. Mereka bilang ada ular menjaga di dasarnya. Iamelemparkan batu ke dalam sumur mati itu dan mendengar suara yang pernah dikenalnyalama sebelum ia mendengar tangisnya sendiri yang pertama kali. mereka bilang sumur matiitu tak pernah keluar airnya. Ia mencoba menerka kenapa ibunya tidak pernah mempercayai puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono 48CATATAN MASA KECIL, 2 Ia mengambil jalan pintas dan jarum-jarum rumput berguguran oleh langkah-langkahnya. Langit belum berubah juga. Ia membayangkan rahang-rahang laut dan rahang-rahang bunga lalu berpikir apakah burung yang tersentak dari ranting lamtara itu pernahmenyaksikan rahang-rahang laut dan rahang-rahang bunga terkam menerkam. Langit belumberubah juga. Angin begitu ringan dan bisa meluncur ke mana pun dan bisa menggoda lautsehabis menggoda bunga tetapi ia bukan angina dan ia kesal lalu menyepak sebutir yang terpekik di balik semak. Ia tak mendengarnya. Ada yang terpekik di balik semak dan gemanya menyentuh sekuntum bunga lalutersangkut pada angina dan terbawa sampai ke laut tetapi ia tak mendengarnya dan iamembayangkan rahang-rahang langit kalau hari hampir hujan. Ia sampai di tanggul sungaitetapi mereka yang berjanji menemuinya ternyata tak ada. Langit sudah berubah. Iamemperhatikan ekor srigunting yang senantiasa bergerak dan mereka yang berjanjimengajaknya ke seberang sungai belum juga tiba lalu menyaksikan butir-butir hujan mulaijatuh ke air dan ia memperhatikan lingkaran-lingkaran itu melebar dan ia membayangkanmereka tiba-tiba menge pungnya dan melemparkannya ke air. Ada yang memperhatikannya dari seberang sungai tetapi ia tak melihatnya. MASA KECIL, 3 49Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko DamonoIa turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di-luar semesta dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat memberitahukan halitu padanya dan ia terus bertanya-tanya sampai akhirnya terdengar ayam jantan berkokok tigakali dan ketika ia menoleh nampak ibunya sudah berdiri di belakangnya berkata “biar kututupjendela ini kau tidurlah saja setelah semalam suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekaliperangainya?1971AKUARIUM 50Manuskrip puisi “Hujan Bulan Juni” Sapardi Djoko Damono
0% found this document useful 0 votes3K views9 pagesDescriptionDokumen ini berisi kumpulan puisi Sapardi Djoko DamonoCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes3K views9 pagesKumpulan Puisi Sapardi Djoko DamonoDescriptionDokumen ini berisi kumpulan puisi Sapardi Djoko DamonoFull descriptionJump to Page You are on page 1of 9 You're Reading a Free Preview Pages 5 to 8 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Biografi Singkat Sapardi Djoko Damono Puisi Sapardi Djoko Damono - Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono adalah seorang pujangga terkemuka asal Indonesia yang lahir di Surakarta pada tahun 20 Maret 1940. Beliau dikenal melalui karya sastra puisinya yang penuh makna kehidupan. Sehingga banyak puisinya terkenal dikalangan sastrawan maupun dikalangan umum. Sumber Google Images Nah, Bagi kalian yang sedang mencari puisi karya beliau. Saya sudah menyiapkan 31 kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono lengkap. Berikut dibawah ini adalah puisi lengkapnya. Baca Juga 150 Kumpulan Puisi Cinta Romantis, Sedih, Rindu, Galau Terbaik 76 Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar 41 Kumpulan Puisi Karya Rendra yang Melegenda 33 Kumpulan Puisi Karya Taufik Ismail yang Melegenda 43 Kumpulan Puisi Karya Emha Ainun Najib Cak Nun Puisi Ke 1 Kita Saksikan kita saksikan burung-burung lintas di udara kita saksikan awan-awan kecil di langit utara waktu itu cuaca pun senyap seketika sudah sejak lama, sejak lama kita tak mengenalnya di antara hari buruk dan dunia maya kita pun kembali mengenalnya kumandang kekal, percakapan tanpa kata-kata saat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia Puisi Ke 2 Sajak Putih beribu saat dalam kenangan kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh kita dengar bumi yang tua dalam setia sewaktu bayang-bayang kita memanjang kita pun bisu tersekat dalam pesona sewaktu ia pun memanggil-manggil sewaktu Kata membuat kita begitu terpencil Puisi Ke 3 Dua Sajak Dibawah Satu Nama darah tercecer di ladang itu. Siapa pula binatang korban kali ini, saudara? Lalu senyap pula. Berapa jaman telah menderita semenjak Ia pun mengusir kita dari Sana awan-awan kecil mengenalnya kembali, serunya telah terbantai Abel, darahnya merintih kepada Bapa aku pada pihakmu, saudara, pandang ke muka masih tajam bau darah itu. Kita ke dunia kalau Kau pun bernama Kesunyian, baiklah tengah hari kita bertemu kembali sehabis kubunuh anak itu. Di tengah ladang aku tinggal sendiri bertahan menghadapi Matahari dan Kau pun di sini. Pandanglah dua belah tanganku berlumur darah saudaraku sendiri pohon-pohon masih tegak, mereka pasti mengerti dendam manusia yang setia tetapi tersisih ke tepi benar. Telah kubunuh Abel, kepada siapa tertumpu sakit hati alam, dendam pertama kemanusiaan awan-awan di langit kan tetap berarak, angin senantiasa menggugurkan daunan segala atas namamu Kesunyian Puisi Ke 4 Kupandang Kelam yang Merapat ke Sisi Kita kupandang kelam yang merapat ke sisi kita siapa itu di sebelah sana, tanyamu tiba-tiba malam berkabut seketika Barangkali menjemputku barangkali berkabar penghujan itu kita terdiam saja di pintu. Menunggu atau ditunggu, tanpa janji terlebih dahulu kenalkah ia padamu, desakmu Kemudian sepi terbata-bata menghardik berulang kali bayang-bayang pun hampir sampai di sini. Jangan ucapkan selamat malam undurlah perlahan pastilah sudah gugur hujan di hulu sungai itu itulah Saat itu, bisikku kukecup ujung jarimu kau pun menatapku bunuhlah ia, suamiku Kutatap kelam itu bayang-bayang yang hampir lengkap mencapaiku lalu kukatakan mengapa Kau tegak di situ Puisi Ke 5 Gerimis Jatuh gerimis jatuh kaudengar suara di pintu bayang-bayang angin berdiri di depanmu tak usah kauucapkan apa-apa seribu kata menjelma malam, tak ada yang di sana tak usah kata membeku, detik meruncing di ujung Sepi itu waktu kaututup pintu. Belum teduh dukamu Puisi Ke 6 Lanskap sepasang burung, jalur-jalur kawat, langit semakin tua waktu hari hampir lengkap, menunggu senja putih, kita pun putih memandangnya setia Puisi Ke 7 Telor Ada sebutir telor tepat di tengah tempat tidurmu yang putih rapih, Kau, tentu saja, terkejut ketika pulang malam-malam dan melihatnya di situ. Barangkali itulah telor yang kadang hilang kadang nampak di tangan tukang sulap yang kautonton sore tadi. Barangkali telor itu sengaja ditaruh di situ oleh anak gadismu atau isterimu atau ibumu agar bisa tenteram tidurmu di dalamnya. Puisi Ke 8 Taman Jepang, Honolulu inikah ketentraman? Sebuah hutan kecil jalan setapak yang berbelit, matahari yang berteduh di bawah bunga-bunga, ricik air yang membuat setiap jawaban tertunda Puisi Ke 9 Percakapan Malam Hujan Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung berdiri di samping tiang listrik. Katanya kepada lampu jalan, Tutup matamu dan tidurlah. Biar Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah asalmu dari laut, langit, dan bumi kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat manusia. Ia suka terang Puisi Ke 10 Narsisus seperti juga aku namamu siapa, bukan? pandangmu hening di permukaan telaga dan rindumu dalam tetapi jangan saja kita bercinta jangan saja aku mencapaimu dan kau padaku menjelma atau tunggu sampai angin melepaskan selembar daun dan jatuh di telaga pandangmu berpendar, bukan? cemaskan aku kalau nanti air hening kembali cemaskan aku kalau gugur daun demi daun lagi Puisi Ke 11 Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku di belakang aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan Puisi Ke 12 Dalam Kereta Bawah Tanah, Chicago Siapakah namamu? barangkali aku setengah tertidur waktu kautanyakan itu lagi. Bangku-bangku yang separo kosong, beberapa wajah yang seperti mata tombak, dan dari jendela siluet di atas dasar hitam. Aku pun tak pernah menjawabmu, bahkan ketika kautanyakan jam berapa saat kematianku, sebab kau toh tak pernah ada tatkala aku sepenuhnya terjaga. Baiklah, hari ini kita namakan saja ia ketakutan, atau apa sajalah. Di saat lain barangkali ia menjadi milik seorang pahlawan, atau seorang budak, atau pak guru yang mengajar anak-anak bernyanyi tetapi manakah yang lebih deras denyutnya, jantung manusia atau arloji yang biasa menghitung nafas kita, ketika seorang membayangkan sepucuk pestol teracu ke arahnya? Atau tak usah saja kita namakan apa-apa kau pun sibuk mengulang-ulang per- tanyaan yang itu-itu juga, sementara aku hanya separo ter- jaga. Puisi Ke 13 Mata Pisau mata pisau itu tak berkejap menatapmu kau yang baru saja mengasahnya berfikir ia tajam untuk mengiris apel yang tersedia di atas meja ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu. Puisi Ke 14 Ketika Berhenti Disini ketika berhenti di sini ia mengerti ada yang telah musnah. Beberapa patah kata yang segera dijemput angin begitu diucapkan, dan tak sampai ke siapa pun Puisi Ke 15 Hujan Dalam Komposisi, 1 Apakah yang kautangkap dari swara hujan, dari daun-daun bugenvil basah yang teratur mengetuk jendela? Apakah yang kautangkap dari bau tanah, dari ricik air Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah dan hujan, membayangkan rahasia daun basah serta ketukan yang berulang. Tidak ada. Kecuali bayang-bayangmu sendiri yang di balik pintu memimpikan ketukan itu, memimpikan sapa pinggir hujan, memimpikan bisik yang membersit dari titik air menggelincir dari daun dekat jendela itu. Atau memimpikan semacam suku kata yang akan mengantarmu tidur Barangkali sudah terlalu sering ia mendengarnya, dan tak lagi mengenalnya. Puisi Ke 16 Hujan Dalam Komposisi, 2 Apakah yang kita harapkan dari hujan? Mula-mula ia di udara tinggi, ringan dan bebas lalu mengkristal dalam dingin kemudian melayang jatuh ketika tercium bau bumi dan menimpa pohon jambu itu, tergelincir dari daun-daun, melenting di atas genting, tumpah di pekarangan rumah, dan kembali ke bumi. Apakah yang kita harapkan? Hujan juga jatuh di jalan yang panjang, menyusurnya, dan terge- lincir masuk selokan kecil, mericik swaranya, menyusur selokan, terus mericik sejak sore, mericik juga di malam gelap ini, bercakap Apakah? Mungkin ada juga hujan yang jatuh di Puisi Ke 17 Hujan Dalam Komposisi, 3 dan tik-tok jam itu kita indera kembali akhirnya Puisi Ke 18 Pohon Belimbing Sore ini kita berpapasan dengan pohon belimbing wuluh yang kita tanam di halaman rumah kita beberapa tahun yang lalu, ia sedang berjalan-jalan sendirian di trotoar. Jangan kausapa, nanti ia bangun dari tidurnya. Kau pernah bilang ia tidak begitu nyaman sebenarnya di pekarangan kita yang tak terurus dengan baik, juga karena konon ia tidak disukai rumput di sekitarnya yang bosan menerima buahnya berjatuhan dan membusuk karena kau jarang memetiknya. Kau, kan, yang tak suka sayur asem? Aku paham, cinta kita telah kausayur selama ini tanpa belimbing wuluh Demi kamu, tau! Yang tak bisa kupahami adalah kenapa kau melarangku menyapa pohon itu ketika ia berpapasan dengan kita di jalan. Yang tak akan mungkin bisa kupahami adalah kenapa kau tega membiarkan pohon belimbing wuluh itu berjalan dalam tidur? Kau, kan, yang pernah bilang bahwa pohon itu akan jadi Puisi Ke 19 Tentang Tuhan Pada pagi hari Tuhan tidak pernah seperti terkejut dan bersabda, Hari baru lagi! Ia senantiasa berkeliling merawat segenap ciptaan-Nya dengan sangat cermat dan hati-hati tanpa Ia, seperti yang pernah kaukatakan, tidak seperti kita Tuhan merawat segala yang kita kenal dan juga yang tidak kita kenal dan juga yang tidak akan pernah bisa kita kenal. Puisi Ke 20 Sonet, Entah Sejak Kapan Entah sejak kapan kita suka gugup Di antara frasa-frasa pongah Di kain rentang yang berlubang-lubang Sepanjang jalan raya itu kita berhimpitan Di antara kata-kata kasar yang desak-mendesak Di kain rentang yang ditiup angin, Yang diikat di antara batang pohon Dan tiang listrik itu kita tergencet di sela-sela Huruf-huruf kaku yang tindih-menindih Di kain rentang yang berjuntai di perempatan jalan Yang tanpa lampu lalu-lintas itu. Telah sejak lama Rupanya kita suka membayangkan diri kita Menjelma kain rentang koyak-moyak itu, sebisanya Bertahan terhadap hujan, angin, panas, dan dingin Puisi Ke 21 Puisi Cat Air Untuk Rizki angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut kabel telpon itu, aku rindu, aku ingin mempermainkanmu! kabel telpon memperingatkan angin yang sedang memungut daun itu dengan jari-jarinya gemas, jangan berisik, mengganggu . hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin dengan tajam, hardiknya, lepaskan daun itu! Puisi Ke 22 Sonet 4 Hidup terasa benar-benar tak mau redup ketika sudah kaudengar pesan suatu hari semua bunyi rapat tertutup. Penyanyi itu tuli. Suaranya terdengar perlahan. Tapi bukankah masih ada langit yang tak pernah tertutup pelupuknya, yang menerima segala yang terbersit bahkan dari mulut si tuli dan si buta? Penyanyi itu buta? Kau tampak gemetar kita pun diam-diam mendengarkannya, Cinta terasa baru benar-benar membakar ketika pesa kaudengar padamkan nyalanya! Kita pun menyanyi selepas-lepasnya, sepasang kekasih yang tuli dan buta. Puisi Ke 23 Sonet 6 Sampai hari tidak berapi? Ya, sampai angin pagi mengkristal lalu berhamburan dari batang pohon ranggas. Sampai suara tak terdengar berdebum lagi? Ya, tak begitu perlu lagi memejamkan mata, bergegas memohon diselamatkan dari haru biru yang meragi dalam sumsumku tak pantas lagi menggeser-geser sedikit demi sedikit bangkai waktu agar tak menjadi bagian dari aroma waktu kini. Sampai yang pernah bergerit di kasur tak lagi menempel di langit-langit kepalaku? Sampai kedua bola matamu kabur, sayapmu lepas, dan kau melesat ke Ruh itu. Ruh? Ya! Sampai kau sepenuhnya telanjang dan tahu api tubuhmu tinggal bayang-bayang. Puisi Ke 24 Sonet 14 Kaudengar gumam jalan ini, benar? Ya, ia ingin kita selamanya melewatinya, seolah ada yang bisa abadi. Kau tertawa, tentu saja. Kusentuh tanganmu yang dingin ketika jalan itu mulai terdengar menggumam lagi. Setiap berhenti sejenak untuk membenarkan letak sepatu kau bertanya, Kau dengar gumam jalan ini? Ia sudah tua, didendangkannya hujan yang suka membuka payung biru, disenandungkannya kemarau yang suka berselimut udara malam-malam, digumamkannya matahari yang melumurkan lumut sekujur tubuh pohon teduh itu. Kau dengar itu? Jalan ini mengalir hanya kita yang tahu sangat pelahan mengelilingi sebuah tanah lapang. Hanya kita yang tahu bahwa ia ingin kita melewatinya, sepanjang waktu? Tetapi, apakah kita pernah yakin ada cinta yang bersikeras abadi? Puisi Ke 25 Sudah Lama Aku Belajar sudah lama aku belajar memahami apa pun yang terdengar di sekitarku, sudah lama belajar menghayati apa pun yang terlihat di sekelilingku, sudah lama belajar menerima tanpa pernah bertanya apa ini apa itu, sudah sangat lama belajar mengagumi matahai ketika tenggelam di tepi danau belakang rumahku, sudah sangat lama belajar bertanya mengapa kau selalu memandangku begitu. masuk, dan menutupnya kembali. Kalau pada suatu hari nanti tak tahu apa aku masih sempat mendengarnya. Puisi Ke 26 Kenangan ia meletakkan kenangannya di laci meja dan menguncinya memasukkan anak kunci ke saku celana sebelum berangkat ke sebuah kota yang sudah sangat lama hapus dari peta yang pernah digambarnya pada suatu musim layang-layang di laci yang rapat terkunci ia telah meletakkan hidupnya Puisi Ke 27 Tukang Kebun Setelah beberapa kali ketukan, pintu kubuka rupanya ada tamu yang, katanya, menjemputku sore hari ini Apakah aku sudah pernah mengenalnya? Waktu kutanyakan pergi ke mana, jawabnya ringkas, Ke sana, ke samudra raya! Ditunjukkannya pula rajah di lengannya gambar jangkar, tengkorak, dan kata tak terbaca. Aku ini tukang kebun tua yang lahir dan dibesarkan di pedalaman, sepanjang hidup hanya belajar menghayati rumput, pohon, dan tanah basah, mengurus pagar dan membersihkan rumah. Aku tak mampu apa dan bagaimana lagi. Pandanganku tinggal sejengkal, dan telingaku? Suaraku sendiri pun tak dikenal. Tamu itu membelalak ketika kupersilahkan duduk. Tuhan, aku takut. Tolong tanyakan padanya siapa gerangan yang telah mengutusnya. Puisi Ke 28 Pada Suatu Magrib Susah benar menyeberang jalan di Jakarta ini hari hampir magrib, hujan membuat segalanya tak tertib. Dan dalam usia yang hampir enam puluh ini, Astagfirullah! Rasanya di mana-mana ajal mengintip Puisi Ke 29 Tentu. Kau Boleh Tentu. Kau boleh saja masuk di sela-sela butir darahku. Tak hanya ketika rumahku sepi, angin hanya menyentuh gorden, laba-laba menganyam jaring, terdengar tetes air keran sama sekali tak ada orang Tapi juga ketika turun hujan, angin tempias lewat lubang angin, selokan ribut dan meluap ke pekarangan, genting bocor dan aku capek menggulung kasur dan mengepel lantai. Tentu. Kau boleh mengalir di sela-sela butir darahku, keluar masuk dinding-dinding jantungku, menyapa setiap sel tubuhku. Tetapi jangan sekali-kali pura-pura bertanya kapan boleh pergi sajak ini, Kau-lah yang harus Puisi Ke 30 Pertanyaan Kerikil Yang Goblok Kenapa aku berada di sini? tanya kerikil yang goblok itu. Ia baru saja dilontarkan dari ketapel seorang anak lelaki, merontokkan beberapa lembar daun mangga, menyerempet ujung ekor balam yang terperanjat, dan sejenak membuat lengkungan yang indah di udara, lalu jatuh di jalan raya tepat ketika ada truk lewat di sana. Kini ia terjepit di sela-sela kembang ban dan malah bertanya kenapa ada saatnya nanti, entah kapan dan di mana, ia dicungkil oleh si kenek sambil berkata, Puisi Ke 31 Ayat-Ayat Tokyo angin memahatkan tiga patah kata ada yang diam-diam membacanya ada kuntum melayang jatuh air tergelincir dari payung itu kita pandang daun bermunculan kita pandang bunga berguguran kemarin tak berpangkal, besok tak berujung angin menyambar bunga gugur itu menghirup langit dalam-dalam Sumber Penyair Terkenal
kumpulan puisi sapardi djoko damono pdf